Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts
0
Posted on 23:06 by JFOA and filed under
“ Aku rasa istriku adalah karunia terindah yang Allah berikan kepadaku…Saat di dalam rumah, ia selalu berusaha memanjakanku. Kebutuhanku selalu dia penuhi sebelum dirinya. Saat aku pergi meninggalkan rumah, tak ada gelisah atas anak-anak dan hartaku. Aku percaya dia tidak akan menelantarkan mereka. Aku yakin ia akan senantiasa menjaga kehormatan diri dan keluarganya.

Saat aku di tempat kerja, bahkan saat di luar kota, seringkali ia menelepon menanyakan keadaanku. Saat aku sakit, ia menjadi yang begitu perihatin dengan keadaanku. Dan dengan panggilan sayang yang sering ia ucapkan, aku menjadi begitu bahagia. Aku merasa, bahwa kehadiranku di dunia ini, keberadaanku di tengah-tengah mereka menjadi semakin berharga.

Istriku juga akan sangat bahagia saat aneka masakan dan kue yang dibuatnya lahap kami nikmati. Ia juga begitu senang saat dapat berbagi dengan para tetangga. Ia selalu mendukung setiap kebaikan yang aku lakukan. Ia pun tak pernah memberatkanku dengan segala macam tuntutan yang sulit aku penuhi. Ia lebih tenang dan senang saat berkumpul bersama kami di dalam rumah, daripada berkeliling di mal-mal atau tempat hiburan dan rekreasi.

Bahkan, saat kami kesulitan keuangan, ia tidak jarang harus menjual perhiasan yang dipakainya secara diam-diam. Menyadari segala kebaikan yang dipersembahkannya kepadaku, aku merasa sangat miskin kebaikan.

Aku merasa berutang budi begitu banyak terhadapnya. Sepertinya apa yang selama ini aku berikan sangat tidak sebanding dengan segenap kebaikan yang ia persembahkan. Dan aku menjadi semakin terharu, saat menawarkan sedikit kemewahan, tapi ia menolak dan lebih memilih hidup apa adanya.

Saat aku memberi sesuatu yang membahagiakannya, tak lupa ucapan terima kasih dan doa mengalir dari bibirnya. Ini semakin memacu semangatku untuk mengimbangi segala kebaikannya dengan mempersembahkan kebahagiaan untuknya.

Anak-anakku begitu bahagia saat berada di dekatnya. Kami merasa begitu sedih dan kehilangan saat ia marah karena sikap atau perkataan kami yang tak berkenan di hatinya. Dan aku menjadi semakin terharu, saat ia mengatakan tak berkeberatan untuk mencarikanku istri lagi. ‘Bagaimana mungkin aku membutuhkan wanita lain kalau kamu adalah wanita terbaik yang aku miliki? Apalagi yang aku cari dari seorang wanita?’

Sejujurnya kuakui, setelah Allah dan Rasul-Nya, ia adalah sumber kebahagiaan kami. Tapi saat aku mengakui dengan sejujurnya akan hal itu kepadanya, ia hanya tertawa dan menganggapnya hanya rayuan belaka. Wahai sayangku, semoga Allah membalas semua kebaikanmu dengan surga-Nya yang terindah. Engkau adalah bidadari yang Allah karuniakan padaku di dunia……..”

Dari Suamimu yang tercinta

0
Posted on 19:48 by JFOA and filed under
Ya Allah, Limpahkanlah rasa cinta kepada kami, Yang Kau jadikan pengikat rindu Rasulullah dan Khadijah Al Qubro Yang Kau jadikan mata air kasih sayang Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra Yang Kau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci.

Ya Allah, Cukupkanlah permohonan kami dengan ridlo-Mu Jadikanlah kami Suami & Istri yang saling mencintai di kala dekat, Saling menjaga kehormatan dikala jauh, Saling menghibur dikala duka, Saling mengingatkan dikala bahagia, Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan, Serta saling menyempurnakan dalam peribadatan.

Ya Allah, Sempurnakanlah kebahagiaan kami Dengan menjadikan perkawinan kami ini sebagai ibadah kepada-Mu Dan bukti ketaatan kami kepada sunnah Rasul-Mu.

Amin Allahumma Amiin……

Ya Allah… Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru [di jalan]-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya.

Ya Allah… Abadikan kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada Mudammad SAW, kepada keluarganya dan kepada semua sahabatnya.

Ya Allah… Hari ini ( tgl 03 Desembar 2010) dua hamba-Mu yang dhaif mematri janji dalam Mitsaqan Ghaliza di hadapan kebesaran-Mu. Kami tahu tidak mudah untuk memelihara ikatan suci ini dalam naungan ridha dan maghfirah-Mu. Kami tahu, amat berat bagi kami untuk mengayuh perahu rumah tangga kami menghadapi taufan godaan di hadapan kami. Karena itulah, kami datang memohon rahman dan rahim-Mu.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang lebih Engkau anugerahi kenikmatan, bukan-nya jalan orang-orang yang Engkau timpai kemurkaan, bukan pula jalan orang-orang yang Engkau tenggelam dalam kesesatan. Sinarilah hati kami dengan cahaya petunjuk-Mu.

Terangilah jalan kami dengan sinar taufik-Mu. Kalau Engkau berkenan menganugerahkan nikmat-Mu atas kami, bantulah kami untuk banyak berdzikir dan bersyukur atas nikmat-Mu itu. Hindari kami dari orang-orang yang terlena dalam kemewahan dunia. Lembutkan hati kami untuk merasakan curahan rahmat-Mu.

Ya Allah… Indahkanlah rumah kami dengan kalimat-kalimat-Mu yang suci. Suburkanlah kami dengan keturunan yang membesarkan asma-Mu. Penuhi kami dengan amal shaleh yang Engkau ridhai. Jadikan mereka Yaa…Allah teladan yang baik bagi manusia.

Ya Allah… Damaikanlah pertengkaran di antara kami, pertautkan hati kami, dan tunjukkan kepada kami jalan-jalan keselamatan. Selamatkan kami dari kegelapan kepada cahaya. Jauhkan kami dari kejelekan yang tampak dan tersembunyi.

Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Aamin Allahumma Aamiin……



0
Posted on 19:44 by JFOA and filed under
Asma’ binti Kahariyah Fazari diriwayatkan telah berkata kepada puterinya dihari pernikahan anaknya itu:

“Hai anakku, kini engkau kan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenal dan berkawan pula dengan orang yang belum engkau kenali. Itulah suamimu.

Jadilah engkau tanah bagai suamimu (taati perintahnya) dan ia akan menjadi langit bagimu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai supaya ia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan pelbagai kesukaran karena itu akan memungkinkan ia meninggalkanmu.

Janganlah engkau terlampau menjauhinya, agar ia tidak melupaimu. Sekiranya dia menjauhimu, maka jauhilah dia dengan baik. Peliharalah suamimu itu dengan baik. Jagalah mata, hidung dan anggotanya yang lain.

Janganlah kiranya suamimu itu akan mencium sesuatu darimu melainkan yang harum. Jangan pula ia mendengar sesuatu darimu melainkan yang enak dan janganlah ia melihatkan melainkan yang indah sahaja pada dirimu. “

Kalau wanita ingin menjadi isteri yang baik, dipihak lelaki juga berhasrat memiliki wanita yang begitu. Mereka (para suami) ingin benar punya isteri yang menyambut kepulangan dari tempat kerja dengan wajah yang manis dan ceria, senyum menawan, pakaian yang bersih dan wangi dan rumahtangga pula berada dalam keadaan bersih kemas dan terurus. Bila mata sedap memandang, tenang dan damailah hati suami.

Bukan itu saja suami juga bercita-cita memiliki seorang isteri yang boleh menjadi penghibur dirinya, boleh berbagi masalah dengannya, faham apa yang disenangi, tahu mengambil hati suaminya disamping boleh memberi layanan-layanan yang menyenangkan dan mengembirakan suami. Itulah wanita idaman setiap lelaki. Pendek kata bagaimana lelaki akan dilayani oleh bidadari di syurga kelak begitu jugalah keinginan lelaki berhajatkan layanan dari seorang isteri seorang bidadari rumahtangga. Oleh sebab itu dikatakan rumahtangga yang bahagia itu ialah syurga tentulah ada bidadarinya. Siapa lagi kalau bukan isteri yang solehah yang layak menyandang gelaran bidadari dunia.

Isteri yang solehah akan berusaha memberi wajah jernih pada rumahtangga. Kasih sayang yang lahir adalah hasil dari masing-masing hendak mencari keridhaan Allah, bukannya dorongan nafsu semata- mata. Masing-masing suami isteri meletakkan Allah dan akhirat yang lebih besar dan utama.

Isteri yang solehah tidak terasa hina menjadi pelayan suami, malah sebaliknya rasa bangga dan bahagia kalau boleh melakukan tugas-tugas itu dengan baik dan sempurna. Gembira kerana yakin dengan janji Allah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah S.A.W yang bermaksud:

“Apabila seorang perempuan mencuci pakaian suaminya, maka Allah mencatat baginya seribu kebaikan dan mengampuni dua ribu kesalahan dosanya, bahkan segala sesuatu yang disinari oleh matahari memohon ampun baginya serta Allah mengangkat seribu darjat baginya.”

“Wahai Fatimah, setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan membina tujuh parit antara dirinya dengan api neraka. Jarak antara parit itu ialah sejauh bumi dangan langit.”

“Wahai Fatimah, setiap wanita yang berair matanya ketika memotong bawang untuk menyediakan makanan keluarganya, Allah akan mencatat untuknya pemberian sebanyak yang diberi kepada mereka yang menangis kerana takutkan Allah.”

Siapa yang tidak mau kemuliaan ini hanya dengan melakukan tugas yang ringan? Seorang isteri yang solehah akan sentiasa mencari-cari jalan untuk menyenangkan hati suami dan menutupi ruang-ruang untuk menyusahkan dan mencurigakan suami terhadap dirinya. Dia tidak akan membimbangkan suaminya terhadap dirinya. Maruah dirinya sebagai seorang isteri senantiasa dipelihara dan dijaga kerana itu juga yang menjadi syarat untuk dia mendapat keredhaan Allah dan keselamatan di akhirat nanti.Setiap rumahtangga yang dihuni oleh isteri yang solehah bererti rumahtangga itu telah memiliki perbendaharaan yang termahal di dunia dan di sisi Allah rumahtangga itu mendapat perhatianNya.

Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud : ” Seorang wanita yang solehah itu lebih baik daripada seribu orang lelaki yang tidak soleh dan seorang perempuan yang berkhidmat melayani suaminya selama seminggu maka ditutuplah daripadanya tujuh pintu neraka dan dibukakan lapang pintu syurga dan dia bebas masuk dari pintu mana yang disukainya tanpa hisab.”

Isteri solehah biasanya menjadi milik lelaki yang soleh. Tetapi ada juga ketikanya isteri solehah bersuamikan lelaki yang toleh (jahat). Bolehkan kedamaian dan keamanan wujud dalam rumahtangga bilamana suami kufur dengan Allah dan buruk akhlak terhadap isterinya?. Isteri yang menghadapi persoalan begini boleh tertekan jiwanya. Ada yang tidak sabar dengan ulah suami hingga tidak terfikir cara lain untuk menyelamatkan jalan hidup yang dipilihnya melainkan berpisah saja dari suami.

Dalam hal sebegini, si isteri perlu banyak bersabar dan selalu bermunajat pada Allah. Ingatlah mungkin kesusahan yang kita hadapi adalah ujian dari Allah S.W.T. Ada dua maksud Allah mendatangkan ujian yaitu pertamanya ujian itu didatangkan sebagai penghapusan dosa dan keduanya untuk peningkatan drajat disisi Allah.

Jadi jika kita boleh bersabar maka terhapuslah dosa-dosa yang lalu. Sebaliknya tidak mustahil juga itu merupakan peningkatan darjat dari Allah. Kalau tidak diuji, mungkin hati kita akan terpaut benar dengan suami, menyayangi suami lebih dari Allah. Jadi untuk melihat sama ada kita membesarkan suami atau membesarkan Allah maka Allah timpakan ujian itu. Kalau benar hati sayang dan takut pada Allah tentu isteri tidak teragak-agak untuk bertindak membesarkan dan menyayangi Allah daripada suaminya sendiri.

Ingatlah, sejahat-jahat suami kita, tidaklah dia lebih jahat daripada Firaun, sedangkan isteri Firaun, Siti Asiah boleh bersabar menghadapi kesombongan dan keangkuhan Firaun sehinggakan Siti Asiah disenaraikan oleh Allah termasuk di dalam barisan antara wanita-wanita solehah yang dijamin syurga.

Oleh itu kalau suami kita masih belum diberi petunjuk janganlah kita jemu untuk memujuk dan mentarbiah, berlaku baik dan paling penting mohon dan bermunajatlah kepada Allah agar Allah mengubah hatinya untuk tunduk pada perintahNya.

Rasulullah S.A.W pernah bersabda : “Wanita yang taat akan suaminya semua burung-burung diudara, ikan- ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana ia (isteri) masih taat pada suaminya dan diredhai (serta menjaga sembahyang dan puasanya).” 

0
Posted on 19:40 by JFOA and filed under
Sayangilah Aku Hingga Ujung Waktu Author: Abu Aufa

Kalau kita berbicara tentang pernikahan, pasti semua mengharapkan yang enak-enak atau kondisi ideal. Normal aja dong, kalau mengharapkan kriteria ideal untuk calon pasangan hidupnya. Sang pemuda mengharapkan calon istri yang cantik jelita, keluarganya tajir, pinter, akhlak mulia, sholehah, dll. Begitu juga sang wanita ingin punya suami yang ganteng, kaya, sabar, pinter, bertanggung jawab, setia, akhlaknya memikat, dan sebagainya. Coba bayangin semua ini terjadi pada diri kita, wuah...surga dunia tuh! Siapa sih yang gak mau, iya gak?

Saat kita lanjut usia, rambut mulai satu-persatu rontok, raga pun perlahan rapuh dan sepuh, sang istri atau suami masih tetap setia mendampingi. Saat di pembaringan, ada yang mijitin pundak hingga kitapun tertidur pulas. Saat dingin menyerang rangkulan kekasih pun semakin erat, bersama saling menopang saat kaki-kaki kita semakin melemah. Kalau sedih ada yang menghibur, saat senang, apalagi, wuah...uendah nian.

Namun, menurut Hasan Al Banna, waktu itu adalah kehidupan, ia tak pernah berhenti sesaatpun, seiring waktu berlalu, istri semakin keriput dan endut. Tapi menurut sang suami, "Istriku masih yang tercantik," sementara suami pun perutnya udah buncit, tapi menurut sang istri, "Engkaulah satu-satunya Pangeran dalam istana hatiku."

Kebesaran Allah SWT pun selalu tampak di dalam rumah tangga. Setiap anggota keluarga melakukan sholat berjamaah, qiyamullail, membaca Al Qur'an, tasbih, tahmid, saling bertausyiah, bermaafan, menasehati, dan mengingatkan. Inilah hasil dari sepasang anak manusia yang menikah karena ingin mengharapkan ridho-Nya dan cita-cita Islam serta kemegahan ajaran-Nya. Inilah dia surga yang disegerakan sebelum surga yang kekal abadi.

Semua diatas adalah harapan setiap pasangan. Namun, tak jarang juga ditemukan dalam suatu keluarga yang terjadi adalah sebaliknya. Dari istri yang dibilang gak pinter mengatur rumah tangga, menjaga anak, atau suami yang selalu pulang malam tak peduli dengan anak dan istri, dan macam-macam lagi. Kata nista, kata-kata yang nyelekit, tuduhan, makian bahkan saling memukul, bisa juga terjadi pada sebuah keluarga, yang gini nih sepet banget! Rumah tangga serasa bagai hidup di neraka, tak ada ketenangan apalagi kasih sayang.

Emang ya, segala sesuatu itu bisa tak seindah bayangan semula. Ada bunga-bunga indah, namun cukup banyak juga onak dan duri yang siap menghadang. Karena itu, berbagai masalah kehidupan dalam lembaga pernikahan harus dihadapi secara realistis oleh setiap pasangan.

Apalagi hidup di zaman seperti sekarang ini memang tak mudah, namun Al Qur'an memberikan arahan dalam kehidupan berumah tangga, ".... dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik.... [QS Ath Thalaaq: 6] "..... dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS An Nisaa': 19]

Seperti gading, tak ada yang tak retak, begitu juga manusia, tak ada yang sempurna. Setiap kita pasti ada kekurangannya, bisa saja seorang suami atau istri terlihat mempunyai satu kekurangan, namun kalau dipikir-pikir lebih banyak kelebihannya. Apakah kekurangannya saja yang diperhatikan oleh pasangannya atau kedua-duanya dengan pertimbangan yang adil?

Konflik dalam kehidupan rumah tangga juga tak jarang menyebabkan banyak pasangan kehilangan cinta yang dulunya mempersatukan mereka, dan Allah SWT juga telah memberikan arahan yang jelas, "Hai orang-orang mu'min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS At Taghaabun: 14]

Karena itu, sesungguhnya dalam kehidupan berkeluarga yang kita harapkan adalah indahnya keampunan Allah dan surga-Nya, juga kasih sayang orang-orang yang terdekat dengan kita, yang setiap hari saling membutuhkan, karena itu 'sayangilah aku (pasangan hidup) hingga ujung waktu.'

Wahai akhi wa ukhti fillah, mari kita saling mendoakan ya, Semoga dengan kita mengambil panduan Al Qur'an dan sunnah Rasul-Nya serta contoh teladan dari keluarga Rasulullah SAW, akan semakin banyak rumah tangga yang tadinya kurang sakinah kembali menjadi sakinah, rumah tangga yang sakinah menjadi lebih sakinah, dan insya Allah pula saudara-saudara yang belum berumah tangga dikabulkan do'anya berupa pasangan hidup yang sholeh atau sholehah, aamiin allahumma aamiin.

1
Posted on 19:37 by JFOA and filed under
Kupersembahkan kado sederhana ini untukmu suamiku tercinta. Tiada kata yang pantas kuucapkan dari lidahku yang mungil ini, selain”Terimakasih atas segala apa yang kau berikan padaku, semoga Allah memberikan rahmat dan ridhaNya selalu kepadamu, dengan segenap ragaku, sepanjang jantungku masih berdetak, maka aku tetap ” Mencintaimu” , melalui kehangatan tanganmu, aku merasakan hangatnya cintamu”.

Air mataku selalu berlinang bila mengingat dirimu yang telah bersusah payah mencari nafkah lahir dan bathin untuk menghidupi kami.Terkadang dirimu sendiri tidak kau pikirkan, rapikah dandanan bajumu, tersisirkah rambutmu, terpakaikah dasimu, mengkilatkah sepatumu, atau bahkan kau lupa akan isi perutmu sendiri, sudah sarapan pagikah, sudah makan siangkah, semua tidak kau pikirkan kalau tidak kuingatkan padamu, karena pikiranmu cuma satu, mencari nafkah. Selama perkawinan kita dirimu cukup tergantung akan perhatianku pada makan, minum, dan pakaianmu.sampaipun hampir semua bajumu akulah yang memilihkan warnanya.kau benar-benar seorang suami yang manja, dan aku menyukai kemanjaanmu itu.

Wajah dan tubuhmu yang dulu kekar, mulai memudar, keriput mulai merambat iwajahmu, rambutpun mulai memutih, mata semakin sayu, , dan dengan tetesan keringat selalu membasahi sekujur tubuhmu.Namunpun begitu, bagiku dirimu adalah tetap suamiku yang tertampan dan termuda , karena akupun jua semakin melangkah tua.Hatimu selalu ikhlas, tanpa sedikitpun rasa mengeluh dan lelah kau perlihatkan padaku.Sementara aku tidak sepantasnya selalu mengeluh atas kesulitan RT, membersihkan rumah, mengurus anak-anak, mengantarkannya sekolah, memasak, mencuci, menggosok. Tidak sepantasnya aku selalu saja menuntut minta ini, minta itu, beli ini beli itu, antarkan ini, antarkan itu, padahal, seharusnya semua itu mampu aku kerjakan sendiri, karena aku harus menyadari, waktu sangat berharga bagimu, semenit itu bisa jadi uang untuk menafkahi kami, dan juga dirimu butuh istirahat.

Aku selalu ingat, betapa Rasulullah pernah mendapatkan teguran karena hanya sekedar mencari keridhaan istrinya, mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah Ta’ala, padahal, perintah Allah harusnya jauh lebih kau perhatikan ketimbang permintaanku. Juga aku selalu ingat, betapa Allah menyuruh Rasulullah, disaat para istrinya menginginkan kehidupan duniawi lebih lagi, apa yang harus dijawab Rasulullah atas perintah Allah tersebut?” Katakanlah wahai Muhammad(pada istri-istri kamu), jika kamu menginginkan kehidupan duniawi beserta perhiasannya, maka, marilah sini akan kuberikan kesenangan duniawi itu, dan kuceraikan kamu dengan perceraian yang baik-baik”.(Al Ahzab 28)

Dari firman Allah diatas, aku bisa merenungkan, betapa seharusnya seorang istri, jangan terlalu banyak menuntut kepada suami. Ridha dan ikhlas dengan apapun pemberian suami, apapun keputusan suami, karena itulah realita kehidupan.Allah ta’ala berfirman:” lelaki(para suami) itu pemimpin atas perempuan(para istri), dengan kelebihan yang diberikan oleh Allah ta’ala kepada sebahagian mereka(suami) atas sebahagian yang lain(istri), dan dengan kelebihan para suami memberikan nafkah bagi para istri dari harta mereka, maka para istri-istri yang shalihah adalah mereka yang taat pada Allah dan menjaga dirinya.Perempuan- perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz(membangkang, melawan), hendaklah kamu beri nasehat kepada mereka, tinggalkanlah mereka ditempat tidur(pisah ranjang),dan (kalau perlu), pukullah mereka.tetapi jika mereka mentaatimu, janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya, sungguh Allah maha tinggi, lagi maha besar(Annisa 34).

Wahai suamiku, tidak sepantasnyalah seorang suami takut pada istrinya seperti kebanyakan suami zaman sekarang(tidak semua lelaki), dan ketakutan suami pada sang istri, jarang kita temukan dari zaman para Nabi dan para sahabat, andaikanpun ada, langsung dapat teguran dari Allah Subhanahu Wata’ala. Suatu yang aneh, bila kita melihat para suami takut pada sang istri, apakah memang kiamat dah dekat, atau bumi sudah kebalik?Allahu’ alam.

Siapasih perempuan didunia ini, yang tidak menginginkan gemerlap keajaiban duniawi, kesenangan berbaju cantik, berpakaian indah, perhiasan dengan hiasan emas permata, bahkan berlian sekalipun, tinggal dirumah mewah dengan perabotan serba canggih , mutakhir dan lengkap.Hampir semua perempuan didunia ini menginginkan hal itu.Hanya sayang sekali, pada hakikatnya kesederhanaan dan menghemat itu sering terlupakan. Kehidupan zuhud, sederhana dan menghemat disaat kita mampu sudah sulit ditemukan lagi, karena gemerlap kemewahan telah menghiasi dan menyelimuti dunia fatamorgana, penuh fantasi ini.

Pepatah mengatakan:”Al Iqtishaadu asaasunnajaahi, Kesederhanaan, (hemat), itu adalah sumber dari keberhasilan seseorang”.Hemat bukan berarti pelit, karena Allah paling tidak suka pada orang yang sombong lagi pelit.Sudahlah sombong dan pelit, orang pelit pada umumnya sifatnya egois, mementingkan diri sendiri, tidak pernah memikirkan bagaimana nasib orang lain, sudahlah egois, malah menyuruh orang agar egois dan berbuat bakhil pula dan berusaha menyembunyikan kekayaan, atau karunia yang diberikan Allah padanya(Annisa 36-37). (agar tidak ada orang yang meminta belas kasihan kepadanya, dan termasuk disini mereka yang selalu saja mencari-cari alasan agar tidak bersedeqah, seakan-akan kebutuhan rumah yang selalu bertambah-tambah, dan kebutuhan selalu kurang, padahal kalau kita ingat firman Allah, manusia disuruh bersedeqah dalam keadaan lapang dan sempit, sebab disanalah keberkahan hidup itu adanya, bisa jadi dengan sedeqah kita yang sedikit itulah yang justru mempermudahkan rezeki kita).

Suamiku, aku tau, betapa banyaknya para lelaki yang hancur karena ulah perempuan, tetapi sebanyak itu pula para lelaki yang maju karena ada perempuan baik mendampinginya. Ingat kita cerita Napoleon Bonaparte yang katanya super pintar, salah satu penyebab hancurnya juga karena perempuan, ingat kita kehancuran Mesir kuno, dengan cerita cleopatranya, tetapi kita tak juga pernah lupa akan perannya Siti Khadijah dengan segala dukungan, moril, harta dan sayang serta cintanya pada Rasulullah sampai Rasulullah maju.dan berhasil menjadi pemimpin yang paling berhasil didunia sampai zaman kini.Siti Aisyah yang pintar lagi manja, sampai meneruskan perjuangan Rasulullah dengan hadits-hadits melalui beliau.

Kita tak pernah lupa dalam sebuah kata:”Perempuan itu adalah tiang Negara, bila baik perempuan dinegara itu, maka baiklah negerinya, bila buruk perempuan ditempat itu, maka buruklah lokasi tersebut.Begitulah betapa pentingnya peran seorang perempuan yang berhati mulia, berkata santun, cerdas, dan memiliki sense of crisis yang cukup tinggi atas kehidupan manusia lainnya, tidak merasakan dunia ini hanyalah miliknya sendiri, dan hidupnya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tidak akan pernah tenang dan tentram hatinya kecuali segalanya ia miliki sendiri.Karena ia kurang sadar, dan merasa dunia ini hanya selebar daun talas, ia seperti katak dibawah tempurung yang hanya tau dirinya saja.Betapa para sahabiah hidup dalam lingkungan yang luas, hidup mereka bebas, tetapi terikat.Bebas menyalurkan ilmu-ilmu mereka, bebas bekerja membantu mencari nafkah suami, namun terikat dan terbatas sesuai dengan naluri kewanitaannya. Para sahabiah, banyak yang berjualan kepasar, jadi penjahit, daiah, dan sebagainya.

Suamiku, dengan ayunan langkahmu meninggalkan tapaksuci rumah kita, aku selalu mendo’akan agar dirimu sehat dan selamat didalam perjalanan.Aku selalu berusaha menahan diri agar tidak menuntutmu sepulang kerja nantik belikan atau bawakan ini dan itu, walaupun itu kau tawarkan pada diriku. Yang aku inginkan adalah keselamatanmu, karena keselamatanmu jauh lebih berharga dari harta melimpah.Aku tak ingin membiasakan diriku menjadi tangan yang selalu di bawah, selalu meminta, pendidikan itu justru kumulai dari rumah kita, agar kelak anak-anak kitapun tumbuh menjadi orang baik-baik, orang yang selalu memikirkan nasib orang lain, dan tak membiasakan diri untuk menerima saja, tetapi selalu memberi.

Aku tak ingin diriku dan anak-anak kita terbiasa akan kebiasaan tangan dibawah itu, karena Allah berfirman:”Mereka tidak selalu meminta seolah-olah pengemis, sehingga akibat mereka menahan diri untuk tidak meminta, banyak orang yang menduga mereka itu adalah orang yang kaya, karena memelihara diri mereka” bahkan mereka selalu berusaha tangan diatas, karena “Tangan diatas, jauh lebih baik dari tangan dibawah, memberi, jauh lebih pantas, ketimbang selalu menerima”, pendidikan semacam ini, harus kita mulai dari diri dan keluarga kita sendiri wahai suamiku.meskipun dengan alasan atau sandaran aku meminta pada suamiku sendiri, meskipun anak-anak meminta pada orang tuanya sendiri, tetapi tetap juga, yang namanya meminta itu kurang baik, dan pendidikan itu justru dimulai dari keluarga. Tangggung jawab suami pada istri dan anak-anaknya tidak perlu pula harus diminta, ia datang dengan sendirinya sesuai dengan kesanggupan suami.

Suamiku, aku cukup bangga dan bahagia mendapatkan suami seperti dirimu yang baik, shalih, penyayang, perhatian, penyabar, tanggung jawab, dan memperlakukan istri dengan baik, karena aku sadar, dan akupun memilihmu juga karena agamamu, karena dirimu juga memilih aku karena agamaku, sebagaimana sabda Rasulullah

“Dinikahi perempuan dengan empat perkara, karena kecantikannya, kekayaannya, keturunannya, agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya dirimu akan beruntung”, Akupun menerima lamaranmu karena aku takut akan ancaman dalam sebuah hadits Rasulullah:” Apabila datang lelaki shalih meminang seorang perempuan untuk menjadikannya sebagai istri, kemudian ditolak oleh perempuan itu, maka tunggulah fitnah(cobaan) yang besar akan datang menimpanya”. Aku tau, dirimu melakukan semua kebaikan-kebaikan itu atas dasar menjalankan perintah illahi dengan firmanNya”Dan pergaulilah istri-istrimu dengan pergaulan yang baik”.

Segala perbuatan baik, pasti balasannya juga baik, (Hal Jazaaulihsaan, illaalihsaan) , tetapi tak jarang pula justru kita menemukan sebaliknya.Apapun kebaikan yang kita berikan selalu salah dan tak berarti dimata orang yang kita baik padanya, tak heran, bahkan kita mendapatkan balasan buruk darinya, karena memang begitulah dunia ini, seperti cerita keledai dengan ayah serta anaknya, dinaiki salah, tak dinaiki salah, diangkat salah, tak digendong salah menurut pandangan orang lain, dan bisa jadi kita menemukan balasan kebaikan itu dari orang lain, bukan dari orang yang kita telah berbuat baik dan berkorban untuknya, karena bagaimanapun janji Allah pasti benar adanya.

Mungkin kebaikan yang kita lakukan pada si A, tidak kita terima balasan darinya, tetapi kita menerimanya dari si B.Karena itulah Allah dan RasulNya selalu mengingatkan kita akan berbuat, bertindak, dan berlaku sesederhana mungkin, pertengahan, tidak berlebihan. Dan jangan pernah mendzalimi siapapun didunia ini, karena perbuatan yang paling dibenci oleh Allah Ta’ala dan rasulNya adalah mendzalimi sesama, menghina dan mencaci maki sesama, sejelek-jelek perkataan adalah perkataan cacian, hinaan dan makian, karena bisa jadi orang yang kita hina, kita ejek dan kita hina jauh lebih baik dari yang menghina, dan mengejek. (Lihat Q.S Al Hujurat 11).

Mari kita jauhi dari berbuat dzalim, apalagi mendzalimi orang yang telah berbuat baik untuk kita.Betapa banyaknya firman Allah akan hal ini, dzalim pada manusia, maka penyelesaiannya haruslah pada manusia yang kita dzalimi, kalau tidak tergantunglah segala amalan dan hisab kita diakhirat kelak, terkatung-katung nasib kita kelak, sebelum semua terselesaikan, baik itu kesalahan, ataupun hutang kita. Apapun sikap, perbuatan yang kita lakukan hendaknya berada dalam posisi pertengahan, karena Allah juga berfirman:”Dan kami jadikan kamu ummat pertengahan, agar menjadi saksi kelak atas ummat lainnya”dan lagi:

“Masing-masing perkara itu sebaiknya adalah pertengahan, tidak terlalu berlebihan”. Agar tidak terjadi penyesalan dibelakang hari.Mari kita serahkan semua perkara pada Allah Ta’ala, karena Dialah maha Khaliq, maha bijaksana, maha adil, dan maha mengetahui.Dari Atsar dan sebahagian ulama telah mengatakan ini menjadi sebuah hadits:”Cintailah kekasihmu sedang-sedang saja, bisa jadi ia menjadi musuh kamu suatu saat kelak, dan benciilah musuhmu sedang-sedang saja, bisa jadi musuhmu itu menjadi menjadi kekasihmu suatu saat kelak.Hal inipun sesuai dengan firman Allah.”Balaslah perbuatan jahat dengan perbuatan baik, bisa jadi orang yang dulunya ada diantara kita permusuhan, suatu saat ia menjadi teman yang sangat baik(kekasih) .”Waliyun Hamim”(Teman yang sangat dekat, dalam bahasa Arab, Hamim itu kekasih), berbeda dengan sahabat, aqrabat.



0
Posted on 19:34 by JFOA and filed under

Ketika dua anak cucu adam sedang dimabuk cinta, semua yang ada pada pasangan adalah indah dan menarik. semua nampak mempesona, rasa ingin selalu disampingnya menyeret perasaan serta pikiran. singkat kata apapun yang dari dia adalah elok.

dalam pandangan kita saat itu dialah yang terbaik bagi kita, kasih sayangnya, perhatiannya, sungguh tiada tara, namun setelah akad nikah berlangsung, bulan madu pun sudah lewat, barulah muncul, sifat-sifat asli mulai nampak jelas, tak jarang sifat baik yang ditunjukkan waktu sebelum nikah sirna berganti dengan sifa sebaliknya, atau minimal ada sifat-sifat buruk dia yang tidak kita sukai, masih mending kalau itu hanya sifat-sifat yang tidak prinsipil, tapi jika perangai buruk itu berupa hal-hal prinsipil bisa sangat menyiksa.

memang tak ada manusia yang sempurna, dibalik sifat-sifat baiknya tentu ada juga sifat-sifat yang kurang kita senangi, inilah ujian, seorang suami yang shaleh kadang punya istri yang bertolak belakang, suaminya demen beramal shodaqoh,istrinya pelitnya minta ampun, atau sebaliknya.

bersabar menghadapi akhlaq yang tidak baik pasangan kita merupakan suatu amalan yang besar pahalanya.

Rasulullah SAW bersabda, ” Lelaki mana saja yang bersabar atas akhlaq jelek isterinya, Allah SWT akan memberikan pahala kepadanya seperti yang DIA berikan kepada Ayyub AS, karena kesabarannya atas bala’ yang menimpanya. Dan perempuan mana saja yang bersabar atas akhlaq buruk suaminya, Allah SWT akan memeberikan pahala kepadanya seperti yang DIA berikan kepada Aisyah binti Muza’im, istri fir’aun “. ( HR. Ath-Thabrani )

Sebagai penutup penulis teringat kisah tentang seseorang yang terkenal sebagai waliyullah, suatu hari sang waliyullah ini kedatangan seorang tamu, karena ada hal penting yang perlu penjelasan panjang lebar, sang tamu diminta menginap, pagi harinya sebelum tamunya pamit pulang, sang waliyullah ini mempersilahkannya untuk sarapan ala kadarnya. Sang wali pun masuk kedalam rumah mengambil nasi beserta lauk pauknya, samar-samar si tamu mendengar istri sang wali dengan nada kesal bicara sama suaminya ” abah ini bagaimana, sudah tahu nasinya sedikit koq mau diberikan tamu?” sang wali pun menjawab dengan suara lembut dan pelan sehingga si tamu tidak begitu jelas apa yang diucapkan sang wali.

Selesai sarapan pagi, si tamu berpamit hendak pulang, tapi karena penasaran dia memberanikan diri bertanya kepada sang wali perihal istrinya yang dalam pandangannya ” berani” dengan suaminya.

” Njenengan(anda ) kan seorang wali, yang do’anya mustajab, dimana-mana dihormati orang, bagaimana bias istri anda sikapnya demikian dengan njenengan? ” si tamu bertanya karena penasaran

Dengan didahukui senyumannya yang khas sang wali menjawab,

” justru karena sikap istri saya itulah yang menjadikan saya dianugerahi kelebihan seperti sekarang ini ”

” lho koq bisa? ” si tamu tambah penasaran

” saya menerima & bersabar dengan sikap istri saya seperti yang kamu ketahui tadi, dan karena kesabaran itulah Allah menganugerahi kelebihan kepadaku, mungkin kalau istriku tidak begitu, belum tentu saya memperoleh ladang amal kesabaran seperti sekarang ini “.

Si tamu pun akhirnya mafhum, jelas dengan jawaban sang waliyullah, dia pamit pulang, kata-kata terakhir dari sang wali yang masih berngiang ditelinganya ;

” jangan mengharapkan pasangan kita sempurna seperti yang kita inginkan, sebaliknya kita yang seharusnya menyesuaikan diri dengan segala kekurangannya, sebab tak ada manusia yang sempurna ”

0
Posted on 19:32 by JFOA and filed under

SEORANG akhwat, sebut saja Aisyah. Ia mahasiswi semester akhir di perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Mengetahui godaan menjaga iman begitu besar, terbersit keinginan untuk segera menikah. Ia yakin, hanya dengan menyempurnakan agama, kesucian diri; baik hati maupun fisik bisa dijaga. Niat itu pun didukung penuh orang tuanya.

Gayung pun bersambut. Tak lama kemudian, ada dua ikhwan yang serius akan menikahinya. Keduanya termasuk orang baik dan shaleh. Rajin ibadah dan aktifis kampus. Tak hanya itu, secara fisik juga sama. Ganteng. Cuma, perbedaanya dalam hal ekonomi. Yang satu terbilang mampu, sedang yang satunya sangat sederhana. Bahkan, untuk biaya kuliah, dia mencari sendiri.

Sebagai manusia, perasaan bingung dan bimbang pasti ada. Aisyah pun tak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Lalu, malam harinya Aisyah shalat istikharah dua rakaat, meminta pada Allah agar ditunjukkan yang terbaik dari salah satu pemuda shaleh itu. Sekali ia shalat, tapi belum juga ada tanda-tanda.

Malam berikutnya, sebelum tidur, Aisyah shalat lagi. Namun, belum juga ada jawaban. Hingga di hari ke tujuh, Aisyah tiba-tiba bermimpi. Ketika itu, dalam mimpinya, Aisyah sedang berjalan kaki di tikungan jalan tak jauh dari kampusnya. Tiba-tiba, Aisyah melihat seorang ikhwan mengendendarai sepeda onthel menghampirinya dan memboncengnya.

Ikhwan dalam mimpi itu tak lain adalah si pemuda sederhana. Lalu, bagaimana jawaban Aisyah? "Inilah jodohku, Allah telah tunjukkan lewat mimpi" ujarnya mantap.

Kini, Aisyah dan suaminya telah dikaruniai seorang putri yang cantik dan. Mereka hidup bahagia dalam biduk rumah tangga layaknya surga di kota gajah, Lampung Sumatera Selatan. Kabarnya, sekarang Aisyah sedang hamil anak kedua. Dan, sang suami dalam proses menyelesaikan program master di perguruan tinggi negeri di sana.Jadi Solusi

Manusia sering dihadapkan pada berbagai pilihan. Entah dalam bidang apa saja. Bisa karir, sekolah, perguruan tinggi, bahkan jodoh. Nah, masalah jodoh biasanya hal yang paling banyak bikin orang bingung. Pasalnya, memang tidak gampang memilih jodoh. Jodoh adalah pasangan seumur hidup, bahkan sampai akhirat. Salah-salah memilih jodoh, sama halnya cari petaka hidup.

Setidaknya hal itu sudah banyak contohnya. Baru seumur jagung pernikahan, biduk rumah tangga sudah retak. Bahkan pecah. Nauzubillah. Sesuai kata bijak, kalau bisa, menikah hanya sekali dalam seumur hidup. Namun, yang bikin bingung, jika ada lebih dari satu pilihan. Apalagi, semuanya baik. Siapapun bakal masygul. Setidaknya, seperti yang dialami Aisyah dalam kisah di atas. Untungnya, Aisyah lekas shalat istikharah. Aisyah tidak mau terjebak dalam keputusan pragmatis duniawi semata.

Namun perlu diingat. Apa yang diistikharahkan harus realistis dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Akal pikiran dapat menjangkau dan mengukurnya. Jadi tidak terkesan irasional. Jodoh misalnya, harus orang yang baik-baik dan betul-betul serius untuk dijadikan pendamping hidup, bukan untuk dipacari. Jangan sampai karena bingung memilih pacar, lalu shalat istikharah tujuh hari tujuh malam. Bukan itu yang disebut istikharah. Sebab yang terkahir ini jelas bertentangan dengan syariat.

Shalat istikharah sangat bermanfaat untuk menghilangkan rasa waswas. Paling tidak untuk menghindari rasa penyesalan di kemudian hari karena salah dalam memilih. Dan, orang yang mendapat jodoh dari shalat istikharah dijamin tidak menyesal.

Sebuah hadits menyebutkan, "Tidak akan kecewa orang yang mau (mengerjakan shalat) Istikharah, dan tidak akan menyesal orang yang suka bermusyawarah serta tidak akan melarat orang yang sukaberhemat (sederhana)." (HR.Imam Thabrani)

Shalat istikharah tidak jauh beda dengan shalat sunnah lainnya. Shalat istikharah bisa dilakukan dua rakaat dan kapan saja, bisa siang atau malam. Namun, lebih baik dilakukan seperti shalat tahajud, di sepertiga malam.

Dalam Fiqhus-Sunnah, As-Sayyid Sabiq mengatakan tidak ada ketentuan yang kuat surat atau ayat apa yang secara khusus harus dibaca pada dua rakaat.

Sedangkan, doa istikharah dibaca setelah usai shalat. Doa tersebut sebagai berikut; “Allahumma Astakhiiruka bi 'ilmika Wa Astaqdiruka biqudratika. Allahumma inkunta ta'lamu anna hazal amra khirun li fi diini wa ma'asyi wa 'aqibatu amri, faqdirhu li wa yassirhu li tsumma baarik li fihi. Wa Inkunta ta'lamu anna hazal amra syarran li fi diini wa ma'asyi wa 'aqibatu amri, fashrifhu 'anni wa washrifni 'anhu Waqdir liya khaira haitsu kaana. Tsummardhini bihi.”

Artinya; "Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagi dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini buruk untukku, agamakku dan jalan hidupkku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dari ku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan itu."

Berdoa adalah senjata (silah) umat Islam. Dengan doa, berbagai masalah bisa dipecahkan. Allah SWT telah menjamin pada setiap hamba-Nya untuk mengabulkan segala doa. Asal, tidak putus asa dan terus berdoa. Selamat mencoba. [Anshor/www.hidayatullah.com]

0
Posted on 00:05 by JFOA and filed under
Suamiku tercinta ..., Sungguh rumah kita sepi dari majelis keimanan. Aku ingin engkau membacakan sebuah hadits setiap hari kepada kami dari kitab Riyaadlush Shaalihiin. Aku ingin kami bisa mendengar suara lantangmu menerangkan sirah Rasul Shallallaahu 'Alayhi Wasallam dari kitab-kitab sirah. Kapan engkau memulainya, suamiku ? Jangan katakan besok, tapi sekarang. Aku akan akan menyiapkan buku untukmu. Beri kami kesempatan untuk mendengar suaramu, menikmati duduk bersamamu, dan semua anak kita bergembira dengan sifat kebapakanmu (Rasa'il Mutabaadilah baina Zaujain, 'Abdul Maalik Al-Qaasim)

Ada fenomena yang cukup mengkhawatirkan di kalangan para Ummahat dewasa ini. Setelah menikah dan memiliki anak-anak, para Ummahat seringkali tidak sempat atau tidak diberi kesempatan untuk memperoleh ilmu syar'i yang merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Para ummahat seringkali mengeluh dengan gersangnya rumah dari limpahan cahaya ilmu dan keimanan. Banyak sebab mengapa hal itu terjadi. Padahal dulunya, ketika mereka masih gadis, mereka sangat aktif menghadiri majelis-majelis 'ilmu. Bahkan merekapun aktif berdakwah menyampaikan ilmu nya di kalangan mereka dan keluarga mereka. Keseharian mereka dulunya dipenuhi oleh lautan ilmu yang bermanfaat. Namun lihatlah, setelah berkeluarga, fenomena futur melanda mereka. Adakah yang salah dari mereka ?

Salah satu penyebab utama futurnya para Ibu / Ummahat dari majelis-majelis ilmu justeru banyak disebabkan oleh sikap dan perilaku sang suami yang tidak peduli dengan ilmu dan agama yang dimiliki isterinya. Dulu ketika akan meminang, para Ikhwan seringkali menginginkan calon isterinya adalah seorang akhwat shalihah yang aktif mengaji, bahkan kalau bisa seorang hafizhoh dan 'alimah. Setelah menikahi akhwat tersebut, sang Ikhwan yang kini menjadi suami akhwat tersebut seringkali asyik dengan dirinya sendiri, atau terlampau sibuk berdakwah kepada orang lain. Dia lupa atau mungkin enggan dan malas mengajari isterinya sendiri, karena mungkin menyangka bahwa agama isterinya telah cukup dengan ilmu yang dimilikinya. Padahal hal itu bertentangan dengan firman Allah 'Azza wa Jalla yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari neraka yang bahan bakarnya menusia-manusia dan batu-batu" (Q.S At-Tahrim : 6).

Ayat ini secara tegas memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjaga diri mereka, kemudian keluarga mereka, sebelum kepada orang lain, dari dosa dan kemaksiatan kepada Allah.

Alangkah banyaknya, isteri yang ketika meninggalkan rumah orang tua menuju rumah suami merupakan wanita yang santun, pemalu, dan tekun beribadah. Namun tidak lama kemudian, ia mencampakkan rasa malu dan kesantunannya itu karena pengaruh, penyimpangan dan kebodohan suaminya (Min Akhtho'il Azwaaj, Syaikh Muhammad Ibrahim Al-Hamd).

Para suami seringkali memanjakan isterinya dengan harta benda dan membiarkan isterinya hidup dalam kemaksiatan dengan menonton TV, radio atau majalah-majalah yang mengandung kerusakan. Maka jadilah para suami mengeluh dengan perilaku isterinya yang buruk, padahal hal itu banyak disebabkan oleh sikap dan tingkah laku suaminya sendiri.

Fenomena ini tidak jarang juga terjadi di kalangan para thulabul 'ilmi (penuntut ilmu), bahkan di kalangan para da'i sekalipun. Ada seorang isteri ustadz yang mengeluh karena sang suami jarang bertemu dengan dirinya karena sangat sibuk berdakwah dan sering pergi ke luar kota. Hingga jangankan mengajari dirinya dengan ilmu yang banyak manfaatnya seperti bahasa 'Arab, Ilmu Hadits, Ulumul Qur'an dan sebagainya, bahkan untuk ilmu yang pokok-pun seperti Ilmu Tauhid dan Ibadah tak jarang sang suami melalaikan dirinya. Padahal dulunya dia mengidamkan untuk dapat diajari suaminya yang juga seorang da'i ketika mengerima pinangan dari calon suaminya tersebut. Rasulullah Shallallahu 'alayhi Wasallam kita ketahui waktunya sebagian besar dihabiskan untuk mendakwahi umatnya. Tapi hal itu tidak menjadikan Beliau terhalang dan melupakan untuk mengajari isteri-isterinya. Beliau senantiasa mengajari dan memotivasi ibadah bagi para isteri nya. Banyak tersebar riwayat bagaimana Rasulullah Shallallahu 'alayhi Wasallam mengajari isteri-isteri dan anak-anaknya.

Diriwayatkan dari 'Urwah bi Zubair yang berkata "Aku tidak melihat ada seseorang yang lebih mengerti tentang fiqih, kedokteran dan sya'ir daripada 'Aisyah Radliyallaahu 'anha" Saksikanlah wahai para suami, tidak mungkin terlahir seorang isteri yang faqih dan shalihah kecuali dari binaan-binaan yang berkesinambungan di dalam kehidupannya sehari-hari.

Jadi hendaklah para suami jangan asyik dengan dirinya sendiri. Bukankah suatu yang teramat indah manakala suami mengajak isterinya berjalan beriring bersama mendatangi majelis 'ilmu, menyimaknya bersama, dan mendiskusikan 'ilmu yang baru diperolehnya bersama setibanya di rumah. Dan bukankah suatu keindahan dan kebahagiaan yang tiada tara manakala sang suami mengajarkan isterinya tentang Ilmu syar'i di waktu-waktu yang senggang, mungkin sambil bersenda gurau diantara mereka. Membantu melepaskan kepenatan sang isteri setelah seharian penuh mengurus rumah dan anak-anaknya, dan saling memotivasi untuk ta'at dan rajin beribadah. Sungguh Allah akan semakin menanamkan rasa kasih sayang diantara keduanya. Belajar dan membaca buku sendiri tentu berbeda nuansanya dengan saling membacakan dan mengajari. Karena dengan adanya interaksi ini, maka akan tumbuh motivasi belajar dan ibadah yang jauh lebih kuat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id Radliyallaahu 'anhuma yang berkata, Rasulullah Shallallahu 'alayhi Wasallam bersabda: "Jika seorang suami bangun di malam hari, membangunkan isterinya, kemudian keduanya shalat dua raka'at, maka keduanya ditulis dalam golongan laki-laki dan wanita yang banyak berdzikir kepada Allah" (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jami')

Dengan demikian, maka dengarkanlah para Suami yang mengharapkan ridla dan karunia Allah berupa isteri-isteri yang shalihah. Jangan pernah biarkan isteri-isterimu terkurung dalam kebodohan dan terkungkung dalam kejumudan di rumah-rumahmu. Ajarkanlah mereka tentang agama ini dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Berikanlah kesempatan pada isteri-isterimu untuk mereguk 'Ilmu yang bermanfaat sebanyak-banyaknya, karena Nabi Shallallahu 'alayhi Wasallam bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki suatu kebaikan dari Allah, maka Allah akan memahamkan dirinya tentang Agama (Tafaqquh Fiddiin)" (HR. Bukhari dan Muslim).

Sisihkan sebagian hartamu untuk membelikan buku, kaset dan video ceramah yang bermanfaat dari para 'ustadz dan 'ulama untuk didengar dan ditonton oleh isterimu. Serta jauhkan para isterimu dari hal-hal yang melalaikan dirinya selama di rumah. Semoga Allah memudahkan urusan ini bagi kita semua.

Wallaahul Musta'an. (Disadur dari kutaib "Asykuu ilayka Zauji" karya Syaikh 'Ishom bin Muhammad Asy-Syarif)
0
Posted on 00:03 by JFOA and filed under
Teruntuk saudariku yang ku cinta karenaNya…

Ukhti, kalian adalah tulang rusuk yang hilang. Jika kalian dalam penantian, maka jadikan penantian itu jalan menuju keberkahan. Menanti bukan berarti berdiam diri, atau menunggu tanpa arti. Kalian adalah bidadari yang dicari. Sebelum pemilik tulang rusuk datang menjemput, isilah masa penantianmu dengan taqwa, sabar, do’a dan tawakkal. Meski kau boleh mengajukan proposal lebih dulu, tapi ana yakin, al-Haya’ yang menjadi perisai bagimu akan membuatmu urung untuk mengungkap perasaan. Cinta yang tak mampu kau ungkap. cinta yang hanya kau dekap dalam bungkam. Karena mungkin kau tak seberani Khadijah…

Ukhti fillah, izinkan ana berbagi. Dialog dari hati ke hati.

Saudariku, antunna mungkin jauh lebih paham tentang yang ingin ana sampaikan. Namun, tak ada salahnya jika kita sama-sama mereviewnya kembali. Setidaknya, menasehati diri ana pribadi.

Tips mengisi penantian dengan proses yang berkah untuk hasil yang berkah:

© Senantiasa dekatkan diri kepadaNya. Taqorrub ilallah! Karena Dialah Sang Pemilik hati, Yang Menguasai hati, dan Maha Tahu segala isi hati.

© Persiapkan bekal karena perjalanan itu jauh. Tholabul ‘ilmi never ending!

© Kerenkan diri dengan mempercantik lahir dan batinmu.

© Perbaiki diri karena InsyaAllah di seberang sana dia pun sedang sibuk memperbaiki dirinya. Yakinlah bahwa wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik pula.

© Ukhti, jaga hijabmu agar senantiasa terpelihara.

© Jaga izzahmu karena kau adalah calon bidadari syurga.

© Terakhir, jika ana boleh memberi saran, isilah penantianmu dengan ukiran tinta cintamu. Buatlah syair, puisi, atau surat cinta untuk sang belahan jiwa. Curhatkan segala perasaanmu selama dalam penantian, tentang cinta, dan rindu. Sekadar menanyakan kabar iman, keadaan, ada di mana, dan sedang apa dia sekarang. Saat ini kau tak tahu untuk siapa suratmu kau tujukan. Allah sedang merahasiakan. Tapi yakinlah, Sang Sutradara kehidupan sudah mempersiapkan yang terbaik untukmu. Berikanlah surat itu saat waktunya tiba. Biarlah waktu yang bicara, karena waktu tak pernah berdusta. insyaAllah, virus merah jambu yang mencoba merusak komputer hati antunna di masa penantian , akan terscan oleh anti virus imani dan syair cinta untuk yang dinanti. Dan InsyaAllah pula, ta’aruf kedua, ketiga , keempat dan ta’aruf-ta’aruf berikutnya di mahligai rumah tangga, akan semakin berbunga dengan adanya syair-syair indah perekat cinta..

Jangan buat penantianmu sia-sia. Bersegera, namun jangan tergesa. Sebelum ijab qobul keluar dari lisan “Sang Pangeran”, hati-hatilah menempatkan perasaan. Karena bisa jadi, cintamu salah kau alamatkan..

Bila yakin ‘tlah tiba, teguh di dalam jiwa

Kesabaran menjadi bunga

Sementara waktu berlalu, penantian tak berakhir sia-sia

Saat perjalanan adalah pencarian diri

Laksana Zulaikha jalani hari

Sabar menanti Yusuf sang tambatan hati

Di penantian mencari diri

Bermohonkan ampunan

Dipertemukan…

0
Posted on 00:04 by JFOA and filed under

Tahukah kau, bahwa menjadi seorang istri itu menyenangkan ?? Apalagi menjadi seorang istri yang sholihah.. Waw… Subhanallah ajang buat kejar pahala!!! Ga tanggung-tanggung, Allah kasih ganjaran surga buat para Wanita yang sholihah.

Mau tau caranya?? Insya Allah gampang koq :D. Asal mau praktek aja.. Hihii..

Yuk kita sama-sama belajar bagaimana menjadi seorang Wanita sholihah itu..

“Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah.” [Hadits Riwayat Ibn Majah]

Betapa indahnya menjadi seorang wanita shalihah, Rasulullah SAW bahkan berwasiat:

§ Wanita yang membuat tepung bagi suami dan anak-anaknya, kelak Allah tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji gandum yang diadonnya dan Allah akan melebur kejelekan serta meningkatkan derajatnya

§ Wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung bagi suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah

§ Wanita yang meminyaki dan menyisirkan rambut anak-anaknya dan mencuci pakaiannya, maka Allah tetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang

§ Wanita yang membantu kebutuhan tetangganya, maka Allah membantunya untuk dapat minum dari telaga kautsar pada hari kiamat kelak

§ Yang utama dari seluruh keutamaan itu adalah keridhaan suami terhadap istri. Kemarahan suami adalah kemurkaan Allah

§ Saat seorang wanita mwngandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketiaka seorang Wanita merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang dijalan Allah. Disaat wanita melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya, seperti ketika ia dilahirkan dari kandungan ibunya. Disaat wanita meninggal saat melahirkan, maka tidak akan membawa dosa sedikitpun. Didalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah Haji dan Umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat

§ Saat seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, maka Allah akan menganpuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allah pun akan memberikan padanya seratus kali beribadah haji dan umrah.

§ Saat seorang istri tersenyum di hadapan suaminya, maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih

§ Saat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

§ Saat seorang wanita meminyaki dan menyisirkan kepala suami, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya. Maka Allah akan memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah pun akan mempermudah sakaratul maut baginya, serta menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allah pun menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shiratal-mustaqim dengan selamat.

Nah.. Ilmu udah ada, motivasi udah OK, tinggal kurang satu. Praktek!!

sumber: www.wordpress.com
4
Posted on 21:59 by JFOA and filed under , ,

suatu ketika seorang bayi siap untuk dilahirkan kedunia



menjelang diturunkan, dia bertanya kepada Tuhan.
"para malaikat disini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia.

tetapi bagaimana cara saya hidup disana?, saya begitu kecil dan lemah .. kata si bayi

Tuhan menjawab, " Aku telah memilih satu malaikat untukmu, ia akan menjaga dan mengasihimu"

" tapi di surga, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. ini cukup untuk saya bahagia"

demikian kata si bayi..

Tuhan pun menjawab,
"malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari, dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih berbahagia

Si Bayi pun bertanya kembali, " dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepada-MU?

Sekali lagi Tuhan Menjawab, "Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa"

Dan sibayipun belum puas,
ia pun bertanya lagi.

"Saya mendengar bahwa dibumi banyak orang jahat, siapakah yang akan melindungi saya?"

Dengan penuh kesabaran, Tuhanpun menjawab.

"Malaikatmu akan melindungimu dengan taruhan jiwanya sekalipun"

Sibayipun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaanya,
"tapi saya akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi"

dan Tuhanpun menjawab, "malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang AKU, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-KU. Walaupun sesungguhnya Aku selalu berada disisimu"



saat itu surga begitu tenangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar, dan sang anak dengan suara lirih bertanya,
"Tuhan....
jika saya harus pergi sekarang, bisakah engkau memberitahu siapa nama malaikat dirumahku nanti?

Tuhanpun menjawab,
"kamu dapat memanggil malaikatmu....
IBU...
kenanglah Ibu yang menyayangimu

Untuk Ibu yang sealu meneteskan air mata ketika kau pergi.....

Ingatlah engkau ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu..


Ingatlah engkau ketika jemari Ibu mengusap lembut kepalamu? .... dan ingatlah engkau ketika air mata menetas dari mata Ibumu ketika ia melihatmu sakit?


Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu dirumah tempat kau dilahirkan.

kembalilah memohon maaf pada Ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu.

jangan biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan dimasa datang,
ketika Ibu telah tiada...


Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita.
tak ada lagi senyuman indah... tanda sayang.

Yang ada hanyalah kamar kosong tiada penghuninya, Yang ada hanyalah baju yang digantung dilemari kamarnya...


tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendoakan disetiap hembusan nafasnya..


kembalilah segera .. peluklah Ibu yang selalu menyayangimu...
3
Posted on 18:30 by JFOA and filed under ,

tidak sabar..
ceroboh...
ego tinggi...
tidak pengertian...
kurang ilmu..

ternyata aku seperti itu..

semoga penat ini segera berlalu... dan berganti dengan hari esok yang lebih cerah....
aku yakin aku bisa.. yakin ..yakin.. Insya Allah
0
Posted on 19:35 by JFOA and filed under ,


pada hari rabu pagi,... suasana di wisma Talenta serasa di pasar hihihii
Bulik prapti, mba Vinci + Suami mas Didit (jauh-jauh dari jakarta :D) , n mas Hamid..

thanks atas supportnya buat Ibu.
n sekarang Ibu jadi bisa tersenyum kembali..
0
Posted on 22:03 by JFOA and filed under

7 tahun dikos tercinta.. I miss U all
0
Posted on 01:32 by JFOA and filed under

20 Tahun yang lalu.. ku bersama kalian (dedi widjanarko, Lanang Febriandika Indratama, Didik sucahyo) menjalani masa kecil yang indah, main kelereng, nyari jangkrik di kebun, mancing ikan di sungai, bikin mobil2an dari kayu, main betengan, gobak sodor , dan lain-lain..hmm.. tertawa bersama, main bersama, nangis bersama dan berantem juga bersama-sama.

TK nol Besar, Nol Kecil, SD, SMP, SMU... sungguh waktu yang tidak sebentar.. aku selalu ingat akan canda tawamu sobat... kini.. kita punya jalan masing-masing untuk mencapai cita2. Dan satu yang kuharap... jaga tali silaturahmi diantara kita, karena kita jadi seperti sekarang ini karena masa lalu.. Salam kangen buat kalian..dan semoga tercapai cita-citamu..
2
Posted on 01:23 by JFOA and filed under


Alhamdulillah Keponakanku yang ke 6 hadir.. hmmmmm... Semoga berguna untuk Agama. keluarga dan bangsamu yah...